Adikku tercinta,

Apakah engkau melihat keadaan orang tua kita sekarang?

Mereka semakin bertambah saja usianya,,yang artinya bersiaplah kita untuk menggantikan mereka.

Seperti saat kita kecil,

Mereka lah yang menyuapi kita saat makan,,mereka lah yang menuntun kita saat berjalan,,dan mereka lah yang siap membantu kita saat menangis..

Seperti saat kita beranjak dewasa,

Mereka lah yang memberikan uang saku kepada kita,,mereka lah yang mendidik kita kepada jalan kebenaran,,mereka lah yang siap berada di depan kita apabila kita kesulitan..

Adikku tercinta,

Apa yang akan engkau lakukan dengan keadaan mereka jika sudah sampai usianya?

Apa yang sudah engkau persiapkan untuk mereka?

Adikku tercinta,

Lihatlah Kakakmu yang lemah ini,,

Usia Kakak tidaklah semuda engkau,,

Sesosok Kakak hanya seorang manusia yang lahir lebih dulu dari engkau

Yang artinya lebih dulu menjalani hidup

Lebih dulu merasakan pahit manisnya hidup

Lebih dulu merasakan sukar mudah nya melewati sebuah fase hidup

Adikku tercinta,

Tahukah engkau wahai Adikku tercinta,

Sesungguhnya Kakak bersedih, ketika tahu engkau sangat sibuk pada berbagai kegiatan sehingga engkau kurang bisa menjaga waktu akademikmu.

Kakak tahu,,bahwa engkau ingin mencoba belajar dari pengalaman di luar sana,,tapi apakah engkau sudah memikirkan dengan matang,,apa dan mengapa engkau ikut serta? Hal apa yang ingin engkau berikan untuk mereka? Sehingga engkau rela meluangkan waktu untuk itu.

Tahukah engkau wahai Adikku tercinta,,

Kakak bangga denganmu, engkau berani mengambil segala amanah itu dan konskuensi yang tentuya Kakak yakin engkau sudah mengetahuinya.

Kakak bangga denganmu,,ketika namamu masuk ke dalam jajaran orang-orang penting dan berpengaruh di wadah yang engkau masuki

Tapi,, Kakak lebih bangga lagi jika engkau bisa berprestasi dengan membawa perubahan ke arah yang jauh lebih baik di wadah yang engkau masuki.

Dan Kakak jauh lebih bangga lagi jika selain berprestasi di wadah yang engkau masuki,,engkau juga berprestasi di akademikmu.

Masih ingatkah engkau wahai adikku,

Bahwa suatu saat nanti, kita akan merubah Indonesia ini bahkan dunia ke arah yang jauh lebih baik dari sekarang.

Tentunya dengan cara kita masing-masing..

Mungkin engkau yang notabene bakal jadi seorang sarjana,,akan menjadi sarjana yang ekspert di bidangnya,,yang tentunya akan membawa perubahan besar dalam bidang itu dan bermanfaat bagi banyak orang..

Sedangkan Kakak yang usianya tidak semuda engkau,,tentu akan berusaha melakukan yang terbaik selagi masih ada waktu dan kesempatan di bidang Kakak ini,,

Tapi, wahai adikku tercinta

Bagaimana kita bisa merubah Indonesia ini bahkan dunia ke arah yang jauh lebih baik dari sekarang dengan prestasi kita yang pas-pasan dan ala kadarnya ini???

Tahukah engkau wahai Adikku tercinta,

Dahulu Kakak tentu punya cita-cita besar seperti engkau sekarang,,

Kakak juga ingin memetik bintang-bintang yang sudah Kakak tulis di kertas dan ditempel di tembok

Namun, apakah engkau lihat keadaan Kakak sekarang?

Ya,,ternyata Kakak bukanlah sesosok Kakak manusia Super yang bisa melakukan apa yang dinginkan

Kakak bukanlah seorang yang pandai dalam meraih mimpi-mimpinya.

Karena Kakak mu ini penuh keterbatasan.

Tapi, wahai engkau Adikku tercinta.

Kakakmu ini tentu siap membantu jikalau engkau ada kesusahan

Kakakmu ini siap menjadi tanganmu jikalau engkau butuh uluran tangan

Kakakmu siap menjadi alas kakimu jikalau engkau butuh pijakan

Tahukah engkau wahai Adikku tercinta,

Kenapa Kakak mesti mengatakan ini padamu?

Kakak menyayangi engkau,,seorang Kakak tentunya ingin Adik jauh lebih baik daripada Kakak.,

Seorang Kakak ingin menjadi sesosok Kakak yang terbaik untuk Adikku tercinta.

Dan, Kakak yakin engkau bisa melakukannya.

Berjuanglah wahai adikku,,

Wahai Adikku tercinta,

Bogor, 180220101003PM

Kejadian berikut terjadi di ibukota suatu kabupaten di Jawa Barat. Saat itu, diadakan suatu ceramah tentang sains dan matematika dengan mengundang wakil-wakil murid SD, SMP, dan SMU dari semua kecamatan di kabupaten tersebut. Diundang juga para guru pendamping serta tokoh-tokoh penyelenggara bimbingan tes. Setelah rangkaian ceramah selesai, kepada para siswa itu disediakan waktu untuk bertanya tentang apa saja dalam sains dan matematika.
Seorang murid SD dari suatu desa di tepi Samudera Hindia mengajukan pertanyaan sebagai berikut: “Kalau saya seorang astronot dan membawa kipas ke luar angkasa. Kemudian di angkasa itu saya keluar dan mengipas- ngipas kipas itu, apakah terjadi angin?”. Pertanyaan itu disusul oleh pertanyaan lain. Kali ini seorang murid SMP. Pertanyaannya ialah: “Kalau saya nyalakan lilin, nyalanya menuju ke atas. Akan tetap kalau lilin itu saya balikkan sumbunya ke bawah, mengapa nyalanya tidak menyala ke bawah melainkan ke atas juga sehingga melelehkan ujung lilin itu lebih cepat?”
Moderator mempersilahkan guru sains dan penyelenggara bimbingan test yang hadir untuk menjawab kedua pertanyaan itu. Hanya sunyi senyap yang terjadi yang kemudian diikuti gelak para pelajar. Tidak seorang pun dari para guru itu yang sanggup menjawab. Itulah sebabnya agaknya mengapa murid tidak dirangsang guru agar bertanya dan bertanya-tanya. Guru tidak siap menjawab pertanyaan muridnya. Pepatah Melayu “malu bertanya sesat di jalan” yang merupakan kearifan nenek moyang kita sudah tidak berlaku lagi di Indonesia. Demikian pula para pelatih bimbingan test tidak dapat menjawab karena tidak biasa menjawab pertanyaan. Yang sehari-hari dilakukannya adalah menunjukkan kiat memilih jawaban pertanyaan yang tepat dari empat jawaban yang tersedia.
Dengan cara itu perguruan tinggi telah banyak sekali menjaring mahasiswa yang sebenarnya tidak memenuhi syarat menjadi seorang mahasiswa, seandainya yang dimaksud mahasiswa adalah calon ilmuwan atau teknologiwan yang mampu menggunakan akal dan nalarnya. Kalau yang dimaksud mahasiswa adalah mereka yang akan berhasil mendapatkan ijazah sarjana, memang bimbingan test itu sangat bermanfaat, asal saja perguruan tinggi itu hanya merupakan suatu kilang ijazah atau “diploma mill”.
Seharusnya kalau pun para guru kaget mendengar pertanyaan itu, mereka harus dapat keluar dengan melacak kembali pengertian “angin”, yaitu suatu gerakan massa udara dari tempat bertekanan tinggi ke tempat bertekanan rendah. Dalam hal pengipasan, perbedaan tekanan muncul karena kipas itu digerak-gerakkan oleh otot tangan. Namun kalau udaranya tidak ada apa yang mau digerakkan. Masalah nyala lilin juga dapat dijelaskan dengan cara yang sama kerena udara yang panas lebih ringan daripada udara yang dingin. Karena itu, udara di sekitar nyala lilin menjadi lebih ringan dan bergerak ke atas lapisan udara yang lebih berat. Jika lilin dibalikkan tetap saja udara yang lebih ringan itu akan menjauhi bumi bergerak ke angkasa.
Memang sungguh miris melihat cerita di atas. Saya yakin teman-teman bisa mengambil hikmah cerita tersebut. Silahkan koreksi pada diri kita masing-masing.
Mungkin sebab itulah, kenapa IPB (Institut Pertanian Bogor) memiliki persentase paling besar dalam menjaring calon sarjana melalui jalur PMDK.
Kisah inspiratif ini saya ambil dari buku berjudul “POLA INDUKSI SEORANG EKSPERIMENTALIS” karangan almarhum Pak Andi Hakim Nasoetion dimana Beliau adalah pernah menjabat sebagai Dekan Fakultas Pertanian IPB (1966-1969), Direktur Pendidikan Sarjana IPB (1971-1975), Rektor IPB (1978-1987), dan Dekan FMIPA IPB (1991-1995), dan Ketua STT Telkom Bandung (1997-2001).